Kumpulan puisi Air Mata Pohon di Tanah Api merangkum suasana kesedihan alam yang meliputi hutan, sungai, pantai, gunung, pohon-pohon, dan perkotaan. Potret negeri dengan bencana asap muncul dalam beberapa judul puisi. Nyanyian pilu dan kritik yang ironis tergambar pada diksi-diksi dengan aroma lingkungan. Pengelolaan lingkungan yang tak bijak dari manusia berdampak pada bencana yang membuat tan…
Rembulan Biru Pastel ketika bangun, kau melihat rembulan biru pastel di piama putihmu kau melihat kegamangan memercik di sekujur tubuhmu melahirkan tanda baru menetaskan tanya baru Rembulan dan biru adalah dua kata yang melahirkan kemurungan, kesunyian, kesedihan, dan hal-hal lain yang senada. Namun, dalam Rembulan Biru Pastel biru adalah warna lain. Warna pastel, warna langit, warna laut, warn…
Kumpulan Puisi Jalan Tropis Puisi Di pagi yang ganjil itu, sungguh tak ada kobra itu dilihatnya. Sebab di ini kota, darah kobra itu telah menjadi jamu, dan dagingnya telah dirica-rica untuk mengobati penyakit tinea. Indonesia yang beriklim tropis kaya akan flora dan fauna. Dari Sabang sampai Merauke, kita bisa memaknai dan mendalami segala ragam bentuk dari kekayaan flora dan fauna tersebut. Se…
Jajaran pinang menghadiahkan tandan-tandan lebat nsirih ditanam ribuan kali kapur memerahkan jalinan persaudaraan Pada wangi getah rumput segala aroma menguar dari hutan adat Lince mencatat warisan panjang benih pikiran nenek moyang Bibir bergumam berulang-ulang Temung tey, temung frip Ambil secukupnya untuk hari ini Sisakan lebih banyak untuk esok
Ibu Kata Nusantara (Antologi Puisi) Apa yang terlintas ketika mendengar kata Nusantara? Apakah sepintas kita ingin gema seperti saat Misa di Gereja? Atau kita ingin serupa wangi dupa dari Biara dan Pura? Mungkin juga menjelma ibarat Adzan yang menyentuh sampai jauh? Nyatanya, Nusantara adalah cita-cita dan cinta yang lahir, tumbuh, dan berjuang di tengah doa, luka, dan prahara. Apa yang muncul …
Sebagai kawan, buku ini adalah pelengkap yang bersanding dengan kursi-kursi kronikmu. Dia tak berbicara ataupun menasihatimu. Lembarnya yang kosong menerimamu apa adanya. Seratnya siap menyerap tinta keluh kesahmu dan menyimpannya dalam kesaksian bisu. Dia tak banyak berharap, hanya menginginkan. cahaya bersinar dari hatimu. Tentu, untuk menerangi kursi-kursi kronik itu...
Prit Gantil Prit Gantil merupakan judul buku kumpulan puisi yang menggambarkan situasi dan kondisi penulis saat menuangkan goresan-goresan pena yang penuh dengan perasaan. Prit Gantil, burung kecil selalu hinggap di dahan dan ranting maupun pohon nyiur indah dan merdu suaranya. Kini burung itu mulai langka. Burung Prit Gantil, mewakili kerinduan pada alam yang mulai sepi terasa, juga mewa…
TITIP RINDU Di keramaian kolam aku kesepian/ Termenung saat bayangmu melintas/ Senyuman tawa riang candamu/ Bagai secawan anggur merah// Menerawang jauh pikirkanmu/ Bersama diakah di sana/ Masih sendirikah di sana/ Nestapa atau bahagiakah dirimu// Di pojok kolam ini/ saling sebut nama/ Tercipta kenangan indah// Biru warna air kolam renang/ Sebiru rinduku padamu/ Titip rinduku bila dia datang…
Seorang gadis melipat burung kertas dalam damai mega-mega di ufuk barat cakrawala digantungkannya burung-burung itu pada langit2 mimpinya yang akan ia gauli dimalam yang damai bersama rembulan ia hanya yakin, rembulan yang damailah yang setia mengamini mimpinya. sementara ia mencoba menghilangkan penatnya dari siangyang garang
PUISI SEMALAM Pilar-pilar kokoh berdiri Ungkap cerita lalu Ingin kutulis dalam bait puisi Seusai hujan sore tadi Iringi suara jangkrik malam ini Tampak untaian kata pada bait pertama dari 2 bait puisi berjudul Puisi Semalam. Puisi ini menggambarkan bagaimana diri akan selalu takjub akan kebasaran-Nya. Semua yang telah diciptakan-nya akan tersaji dan terungkap kembali sebagai pelajaran …
Ia tiada lain ingatan. Tiada lain ingatan yang tidak pernah berhasil dilemparkannya keluar dari dirinya sebab manusia pada akhirnya adalah ingatan belaka.
Cahaya mentari menembus awan. Melewati celah kecil. mengarah ke balik batu besar. di tempat itu terbaring luka. Dari hati yang pernah menemukan cinta. Sebatas fatamorgana. Mengisahkan hati sunyi sendiri. Ia tersesat karena intiusi. Ia terluka lagi da lagi. Dan semua ini. Tentang hati yang pernah tersakiti.
Selama laut masih bergelombang Dan moke masih terus dituang Mendampingi kunyahan sirih pinang Gelas-gelas akan tetap menengadah Mengharap jatuhnya tetes-tetes baru Melunasi luka-luka
“Sebagai aktivis dan seniman rakyat, Wiji Thukul memang dengan tepat menggambarkan keterwakilan kelas sosialnya. Pilihan untuk kemudian bergabung bersama petani, buruh, dan kaum miskin lainnya dalam semangat yang semakin menguat, bahwa segala bentuk kemiskinan itu bukanlah semata-mata hadiah dari kekuasaan Tuhan, akan tetapi peluang dan kesempatan itu telah dilahap oleh kekuasaan politik dan …